Sabtu, 19 Juni 2010

EDYWORLD

EDYWORLD


Chua ( Kotak Band) Pernah Habiskan Masa TK di Parepare

Posted: 18 Jun 2010 06:50 AM PDT




PAREPARE- Kota Parepare bagi basis Kotak Band, Chua, ternyata bukan kota yang asing baginya. Ternyata ia pernah tinggal di Kota Bandar Madani ini sewaktu masih sekolah di Taman Kanak-kanak mengikuti ayahnya yang bekerja sebagai pegawai PLN di Parepare.

Pengakuan tersebut diungkapkan oleh gadis yang bernama lengkap Suwasti Sabdastantri ini dalam Konferensi Pers di Warung Bakso Kepala Sapi, Jumat (16/4). Namun ia mengaku lupa nama TK tersebut karena sudah terlalu lama meninggalkan Parepare.

Meski demikian, ia masih tetap ingat tempat yang menarik di Parepare. Salah satu tempat yang diingatnya adalah Pasar Senggol. " Saya masih ingat sewaktu kelas V SD, saya sempat berkunjung ke Parepare dan mengunjungi Pasar Senggol" ujar gadis yang baru masuk di Kotak Band tahun 2007 ini.

Kotak Band bersama Wali Band hadir di Parepare dalam rangka menghibur masyarakat Parepare dan sekitarnya. Mereka tampil semalam di Lapangan Makkasau yang dibanjiri oleh penonton.

Dalam kunjungannya di Parepare, personil kotak band mengagumi keindahan Kota Parepare. .Menurut pengakuan Tantry , vokalis Kotak Band, menyatakan bahwa Kota Parepare ini merupakan kota yang sangat nyaman. " Saya sempat makan pisang epe di Pantai Senggol, dan saya melihat view yang sangat indah" ungkapnya.

Sementara itu, drummer Kotak Band, Posan, juga menyatakan hal sama. Menurutnya Parepare ini merupakan kota yang nyaman serta masyarakatnya yang ramah." Saya juga bersyukur karena di Parepare ini sudah ada kerabat kotak" ungkapnya.(*)


sumber: pareparekota.co.id

Kerusakan Telinga Karena Vuvuzela Bisa Sangat Serius

Posted: 18 Jun 2010 06:44 AM PDT



Vuvuzela menjadi ikon di setiap tayangan Piala Dunia dengan suara khasnya yang mirip sarang lebah. Bagi yang menonton langsung di stadion, suara trompet khas Afrika Selatan itu begitu keras sehingga memicu gangguan pendengaran serius.



Sebuah badan amal untuk kesehatan pendengaran, Royal National Institute for Deaf People (RNID) memperingatkan hal itu karena Vuvuzela tak pernah absen dalam setiap pertandingan. Dikutip dari MedicineNet, Kamis (17/6/2010), RNID mengkhawatirkan risiko tinnitus yang bisa dialami para pendukung di lapangan.

Bagaimana tidak, suara tompet plastik ini bahkan melebihi suara sirine mobil ambulans. Jika dibunyikan persis di belakang tempat duduk, intensitasnya bisa mencapai 125 desibel. Sebagai pembanding, sirine ambulans berkekuatan 120 desibel sedangkan gergaji dan mesin pemotong rumput hanya sekitar 110 desibel.

Suaranya akan jauh lebih keras lagi saat laga berakhir, ketika seluruh pendukung (baik menang maupun kalah) berlomba-lomba meluapkan emosinya. Jika berlangsung terus menerus, hal ini bisa menyebabkan telinga berdengung. Bahkan jika tidak kuat, telinga bisa mengalami kerusakan permanen.

Spesialis audiologi senior dari RNID, Angela King menyarankan penonton di lapangan untuk menggunakan penutup telinga ketika berada di stadion, dan sesegera mungkin menyingkir saat laga berakhir. Sebab jika tidak, efek kebisingan bisa terakumulasi setiap kali menonton pertandingan.

"Suara di atas 85 desibel sudah bisa merusak pendengaran, sedangkan Vuvuzela menghasilkan suara 5 kali lebih tinggi dari batas aman untuk didengar. Oleh karenanya, jangan lepaskan penutup telinga ketika ada Vuvuzela di dekat Anda," saran Angela.

Gejala awal tinnitus ditandai dengan suara-suara berdengung, gemuruh atau mendesis di telinga hingga memicu sakit kepala. Suara-suara tersebut bisa muncul di salah satu telinga atau keduanya, dan bisa berlangsung sesaat maupun permanen tergantung pemicunya.




sumber:detikhealth

asal mula nama indonesia

Posted: 18 Jun 2010 06:41 AM PDT

Pada zaman purba, kepulauan tanah air disebut dengan aneka nama. Dalam catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan tanah air dinamai Nan-hai (Kepulauan Laut Selatan). Berbagai catatan kuno bangsa Indoa menamai kepulauan ini Dwipantara (Kepulauan Tanah Seberang), nama yang diturunkan dari kata Sansekerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Walmiki menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Rahwana, sampai ke Suwarnadwipa (Pulau Emas, yaitu Sumatra sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.
Bangsa Arab menyebut tanah air kita Jaza'ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan adalah benzoe, berasal dari bahasa Arab luban jawi (kemenyan Jawa), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon Styrax sumatrana yang dahulu hanya tumbuh di Sumatera. Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil "Jawa" oleh orang Arab. Bahkan orang Indonesia luar Jawa sekalipun. Dalam bahasa Arab juga dikenal Samathrah (Sumatra), Sholibis (Sulawesi), Sundah (Sunda), semua pulau itu dikenal sebagai kulluh Jawi (semuanya Jawa).
Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari Arab, Persia, India dan Tiongkok. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Tiongkok semuanya adalah "Hindia". Semenanjung Asia Selatan mereka sebut "Hindia Muka" dan daratan Asia Tenggara dinamai "Hindia Belakang". Sedangkan tanah air memperoleh nama "Kepulauan Hindia" (Indische Archipel, Indian Archipelago, l'Archipel Indien) atau "Hindia Timur" (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales). Nama lain yang juga dipakai adalah "Kepulauan Melayu" (Maleische Archipel, Malay Archipelago, l'Archipel Malais).
Pada jaman penjajahan Belanda, nama resmi yang digunakan adalah Nederlandsch-Indie (Hindia Belanda), sedangkan pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur).
Eduard Douwes Dekker ( 1820 – 1887 ), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan tanah air kita, yaitu Insulinde, yang artinya juga "Kepulauan Hindia" ( Bahasa Latin insula berarti pulau). Nama Insulinde ini kurang populer.



Indonesia
Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan ( 1819 – 1869 ), seorang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Ingris, George Samuel Windsor Earl ( 1813 – 1865 ), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.
Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations. Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (a distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia (nesos dalam bahasa Yunani berarti pulau). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis:

"... the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians".

Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon ( Srilanka ) dan Maladewa. Earl berpendapat juga bahwa nahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini. Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia.
Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago. Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah "Indian Archipelago" terlalu panjang dan membingungkan. Logan memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia.
Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan:
"Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago".
Ketika mengusulkan nama "Indonesia" agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama resmi. Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama "Indonesia" dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi.
Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826 – 1905 ) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air pada tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah "Indonesia" di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah "Indonesia" itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam Encyclopedie van Nederlandsch-Indie tahun 1918. Padahal Bastian mengambil istilah "Indonesia" itu dari tulisan-tulisan Logan.
Pribumi yang mula-mula menggunakan istilah "Indonesia" adalah Suwardi Suryaningrat ( Ki Hajar Dewantara ). Ketika dibuang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau.
Nama indonesisch (Indonesia) juga diperkenalkan sebagai pengganti indisch (Hindia) oleh Prof. Cornelis van Vollenhoven (1917). Sejalan dengan itu, inlander (pribumi) diganti dengan indonesiƫr (orang Indonesia).



Identitas Politik
Pada dasawarsa 1920-an, nama "Indonesia" yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama "Indonesia" akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan. Akibatnya pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu.
Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.
Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya :

"Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut "Hindia Belanda". Juga tidak "Hindia" saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya."

Di tanah air Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924). Pada tahun 1925, Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij). Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama "Indonesia". Akhirnya nama "Indonesia" dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini dikenal dengan sebutan Sumpah Pemuda.

Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad (Dewan Rakyat; parlemen Hindia Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Hindia Belanda agar nama "Indonesia" diresmikan sebagai pengganti nama "Nederlandsch-Indie". Tetapi Belanda menolak mosi ini.
Dengan jatuhnya tanah air ke tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama "Hindia Belanda". Dan setelah itu lahirlah bangsa Indonesia




sumber:kaskus.us
thumbnail
Judul: EDYWORLD
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Ditulis Oleh

Artikel Terkait :

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright © 2013. About - Sitemap - Contact - Privacy
Template Seo Elite oleh Bamz